Pernah dengar kalau mobil warna merah lebih sering ngebut, atau mobil hitam lebih rawan kecelakaan? Kedengarannya seperti mitos di warung kopi, tapi ternyata ada penjelasan ilmiahnya juga, lho!
Yuk, kita kupas tuntas mitos atau fakta, kalau warna mobil bisa mempengaruhi risiko kecelakaan?
Fakta: Warna Tertentu Memang Lebih Sulit Dilihat
Penelitian di beberapa negara menunjukkan, mobil berwarna gelap seperti hitam, abu-abu, atau biru tua punya risiko kecelakaan lebih tinggi, terutama di malam hari atau saat cuaca mendung. Alasannya sederhana, kontrasnya rendah, sehingga pengemudi lain lebih sulit melihat dari jauh.
Mobil putih, kuning, atau perak justru paling mudah terlihat di berbagai kondisi cahaya. Itulah sebabnya warna-warna ini sering dipilih untuk mobil taksi atau kendaraan dinas.
Contohnya: Studi dari Monash University (Australia) menemukan bahwa mobil hitam punya risiko tabrakan 12% lebih tinggi dibanding mobil putih.
Mitos: Mobil Merah Lebih Sering Ngebut dan Kecelakaan
Banyak yang percaya mobil merah bikin pengemudi lebih agresif. Tapi faktanya, warna tidak mempengaruhi gaya mengemudi. Karakter dan kebiasaan pengemudinya yang justru berpengaruh
Jadi, bukan karena warna merah bikin ngebut, tapi orang yang suka mobil merah mungkin lebih suka tampil sporty. Artinya, mobil merah nggak otomatis bikin kamu jadi pembalap!
Fakta: Warna Terang Lebih Aman Saat Cuaca Buruk
Saatkondisi hujan, kabut, atau jalanan gelap, mobil warna cerah lebih mudah terlihat bahkan tanpa lampu utama menyala. Itulah sebabnya mobil berwarna putih, kuning, atau oranye punya tingkat visibilitas lebih tinggi, sehingga menurunkan risiko tabrakan dari arah depan atau samping.
Kesimpulan:
Fakta sebagian! Warna mobil tidak menentukan kecelakaan secara langsung, tapi mempengaruhi visibilitas, yang pada akhirnya bisa berpengaruh pada tingkat risiko di jalan. Jadi, saat memilih warna mobil, pertimbangkan bukan cuma soal gaya tapi juga soal keamanan dan kondisi jalan di daerahmu